Agen Maxbet | Wartawati Olahraga: Lebih dari Sekadar Cantik

Wartawati Olahraga: Lebih dari Sekadar Cantik

Agen Royal Keno Star88bola.com – Berita Bola , Profesi sebagai pewarta olahraga identik dengan pekerjaan untuk laki-laki. Padahal banyak pula perempuan yang menggeluti profesi ini. Sayangnya, kehadiran para kaum hawa di dunia yang katanya maskulin itu masih sering disepelekan. Padahal, untuk menjadi wartawati olahraga menuntut kualifikasi diri yang tinggi– dan lebih dari sekadar cantik.

“Perempuan bicara tentang taktik sepakbola, itu sungguh indah. Saya pikir, itu fantastis. Anda tahu maksudnya formasi 4-3-3, kan?” ujar pelatih Paris St Germain, Laurent Blanc, menanggapi pertanyaan seorang wartawati bernama Johanna Franden.

Sebelumnya, wartawati dari media Aftonbladet (Swedia) itu menanyakan soal perubahan taktik oleh Blanc. Lantas Franden membalas ucapan pelatih PSG itu dengan mengatakan “ya memang pekerjaan saya untuk mengetahui apa artinya”. Blanc pun menimpali “Maksud saya, ada banyak taktik dalam sepakbola. Ha ha–saya hanya bercanda”. (“Sexism in sport: Why do internet trolls target women?”, CNN.com, 6 Maret 2014).

“Cukup sulit jika Anda reporter (olahraga) yang masih muda, dan Anda adalah perempuan. Setiap saya mendapatkan berita bagus, saya harus berhadapan dengan orang-orang yang berpikir bahwa berita bagus itu bersumber dari mimpi saya. Itu mengerikan. Kritiklah apa yang saya tulis, bukan mengkritik hanya karena saya seorang wanita,” kata Laura Williamson, wartawati sepakbola dari Daily Mail (Inggris).

Dua alinea di atas menggambarkan bagaimana besarnya tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan (atau wartawati) olahraga. Di dunia olahraga yang “maskulin”, kaum hawa menjadi minoritas. Di Inggris Raya misalnya, jumlah wartawati olahraga hanya 10 persen dari total seluruh jurnalis olahraga. Angka tersebut lebih kecil dari jumlah perempuan anggota House of Commons (22 persen) dan rohaniwan perempuan di Gereja Inggris (20 persen). (“The top 12 women sports journalists”, sportsgazette.co.uk, November 2014).

Wartawati olahraga lebih sering diperhatikan dari sisi kecantikan, pakaian, serta dandanan; tetapi tidak dari pengetahuan mengenai olahraga yang mereka miliki. Ketika kita mengetik kata “top women sports journalist” melalui mesin pencari Google, maka yang muncul adalah nama-nama presenter olahraga yang terkenal karena keglamoran mereka, tetapi tidak mencantumkan kemampuan mereka sebagai jurnalis.

Wartawati Olahraga: Disepelekan dan Dilecehkan

Soal kualitas teknis, wartawati olahraga masih sering disepelekan. Bahkan ketika mereka memiliki pengetahuan olahraga yang mumpuni sekali pun, para wartawati itu tetap diremehkan. Mereka yang menganggap remeh umumnya adalah narasumber, audiens, dan bahkan rekan sejawat, dan seluruhnya adalah laki-laki.

Kasus yang sangat buruk terjadi di tahun 1990 di Amerika Serikat, menimpa wartawati Lisa Olsson. Ketika itu Olsson masuk ke ruang ganti pemain, guna mewawancarai pemain bernama Jimmy Williams. Olsson menunggu Williams di depan ruang perawatan. Namun para pemain yang lain menuding Olsson berada di situ hanya karena ingin melihat para pemain dalam keadaan tanpa busana, bukan melakukan liputan. Bukan hanya tuduhan miring yang menimpa si wartawati. Seorang pemain, Zeke Mowatt, mencoba melakukan pelecehan seksual pada Olsson (“Women in Sports Journalism”, 2009: 15-16).

Setelah kejadian itu, sial bagi Olsson, para pemain, fans, dan pelatih justru ramai-ramai mencibirnya. Fans meludahi Olsson, di depan apartemen Olsson tertulis grafiti “wanita tuna susila”, sekelompok fans pria melakukan chant di depan tribun media (press box), meminta Olsson untuk menyingkap pakaian dan memamerkan tubuhnya. Tak tahan dengan itu semua, Olsson memilih pindah ke Australia.




Posted By:
Agen Bola